1. Arti Statistik dan Statistika
A. Pengertian
statistic
Kata statistic bukan merupakan kata
daribahasa Indonesia asli, secara etimologis kata
"statistik" berasal dari kata status (bahasa latin) yang
mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris) atau kata staat
(bahasa Belanda), dan yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi negara.
Pada mulanya, kata "statistik" diartikan sebagai "kumpulan bahan keterangan (data), baik
yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data
kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu negara.
Namun, pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi pada
"kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif)"
saja; bahan keterangan yang tidak berwujud angka (data kualitatif) tidak lagi
disebut statistik.
Seiring
berjalannya waktu kata statistic tidak lagi dibatasi untuk kepentingan-kepentingan
Negara saja tapi sudah digunakan dalam keseharian untuk mempermudah masyarakat untuk
menganalisis sesuatu yang berkaitan dengan data-data. Sehingga setelah masyarakat
memahami statistic dan mulai mempergunakannya dalam kehidupan sehari munculah berbagai
macam nama statistic. Statistic yang menjelaskan sesuatu hal biasanya diberinama
statistic mengenai hal yang bersangkutan didalamnya, contoh kumpulan data yang
membahas tentang tingkat produksi suatu perusahaan dinamakan statistic
produksi. Banyak persoalan baik itu seperti penelitian atau pun pengamatan yang
dinyatakan dalam bentuk bilangan atau angka-angka. Kumpulan angka-angka disusun
atau diatur dan disajikan dalam tabel (terkadang dilengkapi dengan gambar baik berupa
diagram maupu ngrafik, hal ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah menjelaskan
isi dari data).
Maka dapat disimpulkan bahwa statistic merupakan kumpulan
data baik berupa bilangan maupun bukan bilangan yang disusun dalam table
ataupun diagram yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalaaan.
B.Pengertian statiistika
Statistika adalah adalah ilmu yang
mempelajari statistik, yaitu yang mempelajari bagaimana caranya mengumpulkan
data, mengolah data, menyajikan data, menganalisis data, membuat kesimpulan
dari hasil ananlisis data dan mengambil keputusan berdasarkan hasil kesimpulan.
Pembagian Statistik
1. Statistika Deskriptif adalah
stastistika yang mempelajari bagaimana caranya mengumpulkan data, mengolah
data, menyajikan data dan menganalisis data.
2. Statistika Induktif adalah
statistika yang mempelajari bagaimana caranya mengumpulkan data, mengolah data,
menyajikan data, menganalisis data, membuat kesimpulan dan mengambil keputusan.
Kegunaan Statistika
Statistika dipelajari diberbagai
bidang ilmu karena statistika adalah sekumpulan alat yang dapat membantu pengambilan
keputusan berdasarkan hasil kesimpulan pada analisis data dari data yang
dikumpulkan. Selain itu dengan statistika kita bisa meramalkan keadaan yang
akan datang berdasarkan data masa lalu.
3.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi atau universe ialah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi dibedakan menjadi dua yaitu:
Populasi atau universe ialah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi dibedakan menjadi dua yaitu:
- Populasi sampling, contoh
apabila kita mengambil rumah tangga sebagai sampel, sedangkan yang
diteliti adalah anggota rumah tangga yang bekerja sebagai PNS, maka
seluruh rumah tangga adalah populasi sampling
- Populasi sasaran, sesuai dengan
contoh di atas, maka seluruh PNS adalah populasi sasaran
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Dalam penyusunan sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua unsur sampling dalam populasi sampling, dengan syarat:
- Harus meliputi seluruh unsur
sampel
- Tidak ada unsur sampel yang
dihitung dua kali
- Harus up to date
- Batas-batasnya harus jelas
- Harus dapat dilacak dilapangan
Menurut Teken (dalam Masri Singari mbun danSofyan Efendi) Ciri-ciri sample yang ideal adalah:
- Dapat
menghasilkan gambaran yang dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti
- Dapat menentukan presisi (precision)
dari hasil penelitian dengan menentukan penyimpangan baku (standar)
dari taksiran yang diperoleh
- Sederhana, sehingga mudah
dilaksanakan
- Dapat memberikan keterangan
sebanyak mungkin dengan biaya yang rendah....
BeberapaTeknik dalam Pengambilan Sampel
Ada beberapa teknik dalam pengambilan sampel, namun secara garis besardapat dibagi menjadi dua:
a. Probability Sampling atau Random Sampling
- Simple random sampling,
pengambilan sample secara acak sederhana, iala sebuah sample yang diambil sedemikian
rupa sehingga tiap unit penelitian atau satuan elemen dari populasi mempunyai
kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sample. Metode yang
digunakan dengan cara (1) undian (digoncang seperti arisan), (2) ordinal
(angka kelipatan), (3)tabel bilangan random
- Proportionate stratified random
sampling, misal dengan siswa sebagai sampelnya,…maka perlu ada kalsifikasi
siswa berdasar strata (misal kelas I, II dan III)
- Disproportional stratified
random sampling,..
- Area Sampling, teknik pengambilan
sample berdasar wilayah
- Kluster
sampling, teknik pengambilan sample berdasar gugus atau clusters, misal:
sebuah penelitian ingin mengetahui pendapatan keluarga dalam suatu desa,
dengan berbagai klaster, missal dari segi pekerjaan: Tani, Buruh, PNS,
Nelayan
b. Non-Probability Sampling.
Non probability sampling terdiridari:
- Sampling
sistematis, yaitu memilih sampel dari suatu urutan daftar menurut urutan tertentu,
missal tiap indivi duurutan no ke-n (10, 15, 20 dst)
- Sampling kuota, (quota
sampling), teknik sampling yang didasarkan pada terpenuhinya jumlah sample
yang diinginkan (ditentukan)
- Sampling aksidental, sample
yang diambil dari siapa saja yang kebetulan ada, misalnya dengan menanyai siapa
saja yang ditemui dijalan…untuk meminta pendapat tentang kenaikan harga sembako
- Purposive sampling, teknik pengambilan
sample didasrkan atas tujuan tertentu. (orang yang dipilih betul-betul memiliki
kriteria sebagai sampel)
- Sampling jenuh (sensus),
- Snowball sampling, dimulai dari
kelompok kecil yang diminta untuk menunjukkan kawan masing-masing.
Kemudian kawan tersebut diminta untuk menunjukkan kawannya lagi dan seterusnya
sampai secukupnya.
4. Teknik Penentuan Jumlah Sampel
Salah satu cara untuk menentukan jumlah sample adalah dengan menggunakan rumus dari Taro Yamane:
n= Jumlah sample,
N= Jumlah Populasi,
d² = Presisi
yang inginkan (misal 5 % atau 10 %)
3. Arti Data
Pengertian
Data
Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan
oleh peneliti untuk kepentingan untuk memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan
penelitian. Data penelitian dapat berasal dari berbagai sumber yang dikumpulkan
dengan menggunakan berbagai teknik selama kegiatan penelitian berlangsung.
Dalam pengertian lain, data adalah semua
keterangan seseorang yang dijadikan responden maupun yang berasal dari
dokumen-dokumen, baik dalam bentuk statistik atau dalam bentuk lainnya guna
keperluan penelitian ( kumpulan fakta ).
Jenis-jenis Data
·
Berdasarkan sumbernya ( data primer dan data
sekunder)
·
Berdasarkan sifatnya ( kualitatif dan kuantitatif
)
·
Berdasarkan proses ( diskrit dan kontinum )
Berdasarkan
sumber :
1.
Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau
dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer juga
disebut sebgai data asli atau data yang memiliki sifat up to date. Untuk
mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik
yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain
observasi, wawancara, diskusi terfokus dan penyebaran kuesioner.
2.
Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau
dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada ( peneliti sebagai
tangan kedua ). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro
Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal dan lain-lain.
Berdasarkan Sifatnya :
1.
Data kualitatif
Data
kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata (mutu), bukan dalam bentuk
angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data
misalnya wawancara, ananlisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang
telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data
kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
2.
Data kuantitatif
Data adalah data yang berbentuk angka atau
bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau
dianalisis menggunakan teknik perhitungan metematika atau statistika.
Berdasarkan proses :
1.
Data diskrit
Data diskrit adalah data dalam bentuk angka
yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya : jumlah
siswa laki-laki di SD 207 sebanyak 70 orang, jumlah sekolah menengah pertama di
kecamatan sungai bahar sebanyak 15. Karena diperoleh dengan cara membilang,
data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).
2.
Data kontinum
Data kontinum adalah data dalam bentuk angka
atau bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum dapat
berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala pengukuran yang
digunakan. Contoh data kontinum misalnya : tinggi badan randi adalah 155 cm, IQ
dayat adalah 130.
4.Jenis Skala Pengukuran
1.
Data nominal
Data nominal adalah suatu himpunan yang
terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai kesamaan tiap anggotanya, dan
memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain. Variasinya tidak menunjukan
perurutan atau kesinambungan, setiap variasi berdiri secara terpisah. Dalam
skala nominal tidakdapat dipastikan apakah kategori satu mempunyai derajat yang
lebih tinggi atau lebih rendah dari kategori yang lain ataukah kategori itu
lebih baik atau lebih buruk dari kategori yang lain.
Contoh :
·
Jenis kelamin : dibedakan antara laki-laki
dan perempuan
·
Pekerjaan : dapat dibedakan petani, pegawai, pedagang dsb
·
Golongan darah : dibedakan atas Gol. O, A ,B,
AB
·
Suku bangsa : dapat dibedakan suku jawa,
sunda, minang dsb
Contoh Data Variabel :
·
Ya
= 1 danTidak = 0
·
Pria
= 1 danWanita = 0
·
Hitam
= 1, Abu-abu = 2, Putih = 2
Analisis Statistik :
Angka tidak bermakna matematika. Analisis statistik yang dapat digunakan berada dalam kelompok non-parametrik yaitu frekuensi dan tabulasi silang dengan Chi-square.
2.
Data ordinal
Data
ordinal adalah skala variabel yang menunjukan tingkatan-tingkatan. Skala
ordinal adalah himpunan beranggota menurut rangking, urutan, pangkat atau
jabatan. Skala ordinal adalah skala data kontinum yang batas satu variasi nilai
yang lailain tidak jelas, sehingga yang dibandingkan hanyalah nilai tersebut
lebih tinggi, sama atau lebih rendah daripada nilai yang lain.
Contoh :
·
Tingkat pendidikan : dikategorikan SD, SMP,
SMA, UNIVERSITAS
·
Pendapatan : tinggi, rendah, sedang
·
Sikap ( yang diukur skala likert ) : Setuju,
tidak setuju dsb.
Contoh Data Variabel :
·
Sangat
Tidak Setuju= 1
Tidak Setuju = 2
Tidak Tahu = 3
Setuju = 4
Sangat Setuju = 5
Tidak Setuju = 2
Tidak Tahu = 3
Setuju = 4
Sangat Setuju = 5
·
Pendek
= 1
Sedang = 2
Tinggi = 3
Analisis Statistik :
Angka 1 lebih rendah dari angka 2 dalam peringkat, tapi tidak bisa dilakukan operasi matematika. Data ordinal menggunakan statistik non-parametrik mencakup frekuensi, median dan modus, Spearman rank-order correlation dan analisis varian.
Sedang = 2
Tinggi = 3
Analisis Statistik :
Angka 1 lebih rendah dari angka 2 dalam peringkat, tapi tidak bisa dilakukan operasi matematika. Data ordinal menggunakan statistik non-parametrik mencakup frekuensi, median dan modus, Spearman rank-order correlation dan analisis varian.
3.
Data interval
Skala interval adalah skala
data kontinum yang batas variasi nilai satu dengan yang lain jelas, sehingga
jarak atau intervalnya dapat dibandingkan. Dikatakan skala interval bila jarak
atau perbedaan antara nilai pengamatan satu dengan nilai pengamatan lainnya
dapat diketahui secara pasti. Nilai variasi pada skala interval juga dapat
dibandingkan seperti halnya pada skala ordinal ( lebih besar, sama, lebih kecil
dsb ; tetapi nilai mutlaknya tidak dapat dibandingkan secara Matematis, oleh
karena itu batas-batas variasi nilai pada skala interval bersifat arbitrer (
ANGKA NOL-nya TIDAK Absolut ).
Contoh :
·
Temperatur : sebagai skala interval, suhu 36°
celsius jelas lebih panas daripada suhu 22° celsius.
·
Tingkat kecerdasan
·
Jarak
Contoh Data Variabel :
·
Umur
20-30 tahun = 1
Umur 31-40 tahun = 2
Umur 41-50 tahun = 3
Umur 31-40 tahun = 2
Umur 41-50 tahun = 3
·
Suhu
0-50 Celsius = 1
Suhu 51-100 Celsius = 2
Suhu 101-150 Celsius = 3
Analisis Statistik :
Angka 3 berarti lebih tua atau lebih panas dari angka 2 setara dengan angka 2 terhadap angka 1, bisa operasi penjumlahan dan pengurangan. Statistik parametrik yaitu deviasi mean dan standar, korelasi r, regresi, analisis varian dan analisis faktor ditambah berbagai multi varian.
Suhu 51-100 Celsius = 2
Suhu 101-150 Celsius = 3
Analisis Statistik :
Angka 3 berarti lebih tua atau lebih panas dari angka 2 setara dengan angka 2 terhadap angka 1, bisa operasi penjumlahan dan pengurangan. Statistik parametrik yaitu deviasi mean dan standar, korelasi r, regresi, analisis varian dan analisis faktor ditambah berbagai multi varian.
4.
Data ratio
Skala
ratio adalah skala yang disamping batas intervalnya jelas, juga variasi
nilainya mempunyai batas yang tegas dan mutlak ( mempunyai nilai NOL ABSOLUT ).
Contoh :
·
Tinggi badan : sebagai skala ratio, tinggi
badan 175 Cm dapat dikatakan mempunyai selisih 15 Cm terhadap tinggi badan 160
Cm.
·
Berat badan
Contoh Data Variabel :
·
0
tahun, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, .....dst.
·
.....
-3C, -2C, -1C, 0C, 1C, 2C, 3C, .....dst.
·
.....
0,71m .....5,38m .....12,42m .....dst.
Analisis Statistik :
Berlaku semua operasi matematika. Analisis statistik sama dengan skala interval.
Tutorial Terkait :Statistik
5. Tipe Skala Pengukuran
Untuk memperoleh data dari responden,
maka diperlukan skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap
yang menjadi dasar kepribadian suatu populasi.
Para ahli
sosiologi membedakan dua tipe skala menurut fenomena sosial yang diukur, yaitu
:
1. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian.
2. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
1. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku susila dan kepribadian.
2. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
Berbagai skala
yang dapat digunakan untuk penelitian Administrasi antara lain:
1. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting (STP).
Untuk penilaian ekspektasi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
a. Sangat Penting (SP) : 5
b. Penting (P) : 4
c. Ragu-ragu (R) : 3
d. Tidak Penting (TP) : 2
e. Sangat Tidak Penting (STP) : 1
Untuk penilaian persepsi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
a. Sangat Baik (SB) : 5
b. Baik (B) : 4
c. Ragu-ragu (R) : 3
d. Tidak Baik (TB) : 2
e. Sangat Tidak Baik (STB) : 1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.
Keuntungan skala Likert adalah :
● Mudah dibuat dan diterapkan
● Terdapat kebebasan dalam memasukkan pertanyaan-pertanyaan, asalkan mesih sesuai dengan konteks permasalahan
● Jawaban suatu item dapat berupa alternative, sehingga informasi mengenai item tersebut diperjelas.
● Reliabilitas pengukuran bisa diperoleh dengan jumlah item tersebut diperjelas.
2. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban yang tegas. diantaranya : ‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi, kalau pada Skala Likert terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata ‘sangat setuju’ sampai ‘sangat tidak setuju’, maka pada Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’. Penelitian menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
3. Semantic Differential
1. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
Sangat Penting (SP), Penting (P), Ragu-ragu (R), Tidak Penting (TP), Sangat Tidak Penting (STP).
Untuk penilaian ekspektasi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
a. Sangat Penting (SP) : 5
b. Penting (P) : 4
c. Ragu-ragu (R) : 3
d. Tidak Penting (TP) : 2
e. Sangat Tidak Penting (STP) : 1
Untuk penilaian persepsi pelanggan, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:
a. Sangat Baik (SB) : 5
b. Baik (B) : 4
c. Ragu-ragu (R) : 3
d. Tidak Baik (TB) : 2
e. Sangat Tidak Baik (STB) : 1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.
Keuntungan skala Likert adalah :
● Mudah dibuat dan diterapkan
● Terdapat kebebasan dalam memasukkan pertanyaan-pertanyaan, asalkan mesih sesuai dengan konteks permasalahan
● Jawaban suatu item dapat berupa alternative, sehingga informasi mengenai item tersebut diperjelas.
● Reliabilitas pengukuran bisa diperoleh dengan jumlah item tersebut diperjelas.
2. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban yang tegas. diantaranya : ‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi, kalau pada Skala Likert terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata ‘sangat setuju’ sampai ‘sangat tidak setuju’, maka pada Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’. Penelitian menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
3. Semantic Differential
Skala pengukuran yang berbentuk Semantic Differensial
dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya
bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu
garis kontinu yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis,
dan jawaban “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan
untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
4. Rating Scale
Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan Rating Scale, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
4. Rating Scale
Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan Rating Scale, data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Responden menjawab, senang atau tidak
senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah adalah merupakan
data kualitatif. Dalam skala model Rating Scale, responden tidak akan menjawab
salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah
satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu Rating Scale
ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk
mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk
mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain. Yang
penting dalam Rating Scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang
diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu
memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama
maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2.
6.
Sumber
dan Instrumen Pengumpulan Data
Definisi Instrumen Pengumpulan Data
Menurut Sumadi Suryabrata ( 2008 :
52 ) mendefisikan bahwa InstrumenPengumpulan data adalah alat yang
digunakan untuk merekam –pada umumnya secara kuantitatif[1][1].
Jenis Instrumen Pengumpulan data
Instrumen yang dipergunakan dalam
upaya pengumpulan data suatu penelitian itu harus memperhatikan validitas dan
reliabelitas, karena sesungguhnya data yang baik adalah data yang valid dan
reliable.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa
di dalam penyusunan instrumen pengumpulan data suatu penelitian, data yang
dihasilkan nanti harus mempunyai kebenaran yang dapat diukur serta mempunyai
konsistensi kebenaran terhadap suatu objek sehingga adanya relevansi antara
hipotesa dan kenyataan yang diperoleh melalui pengalaman secara optimal yang
dengannya kesahihan penelitian dapat
diterima secara logis oleh akal.
Jenis instrumen pengumpulan data, disebut juga alat
evaluasi. Menurut Mulyasa, secara garis besar terbagi menjadi dua macam, yaitu
: (1)Instrumen Tes, (2) Instrumen Non Tes[2][8].
Cara Menyusun Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen memegang peranan penting
dalam suatu penelitian. Mutu penelitian sangat dipengaruhi oleh Instrumen
penelitian yang digunakan, karena kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh
dalam suatu penelitian dsangat ditentukan oleh tepat tidaknya dalam memilih
instrumen penelitian. Instrumen atau alat pengumpul data adalah suatu
alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data
tersebut dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.
Hal yang terkait jika membicarakan
tentang instrumen penelitian adalah tekhnik pengumpulan data penelitian. Jika
instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam penelitian maka
tekhnik pengumpulan data adalah merupakan cara atau prosedur yang ditempuh
untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Kedua hal tersebut
yaitu instrumen penelitian dan tekhnik pengumpulan data adalah merupakan dua
hal yang sangat mempengaruhi kualitas data yang diperoleh peneliti dalam suatu
penelitian. Sehingga kulaitas data yang dikumpulkan mempengruhi kualitas dan keabsahan
serta ketepatan kesimpulan yang diperoleh peneliti setelah melakukan penelitian
Teknik yang digunakan dalam
pengumpulan data
Pada bagian ini akan dibahas tentang teknik yang akan
digunakan dalam pengumpulan data. Sebagaimana diketahui bahwa penelitian
menurut jenis data dan analisisnya maka penelitian ada dua bentuk penelitian,
yaitu; penelitian kuantitatif dan
penelitian kualitatif.
Mengingat bentuk penelitian yang banyak dilakukan di
lingkungan Pasca Sarjana IAIN Raden Fatah Palembang adalah penelitian
kualitatif, maka penulis akan menguraikan penjelasan dalam makalah ini, pada
bagian instrumen pengumpulan data dalam bentuk penelitian kualitatif saja.
Dalam penelitian ada banyak instrumen atau teknik yang dapat digunakan dalam
mengumpulkan data, namun dalam penelitian kualitatif, dominan yang banyak
digunakan oleh peneliti ada 4 (empat) macam teknik pengumpulan data, yaitu
observasi, wawancara, dokumentasi dan gabungan/triangulasi. Perhatikan diagram
berikut:
|
Macam Teknik Pengumpulan Data
|
|
Observasi
|
|
Wawancara
|
|
Dokumentasi
|
|
Triangulasi/
Gabungan
|
a.
Pengumpulan data dengan observasi
Macam-macam observasi
a) Observasi Partisipatif
(participant observastion).
Observasi partisipatif merupakan seperangkat strategi dalam
penelitian yang tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang lengkap. Hal ini
dilakukan dengan mengembangkan keakraban yang dekat dan mendalam dengan satu kelompok
orang dilingkungan alamiah mereka. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan
sejumlah tujuan dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari objek yang sedang
di telitinya.[3][13]
b) Observasi terus terang atau
tersamar
Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa ciri penelitian
kualitatif diantaranya adalah untuk menemukan dan mengungkap fakta yang ada di
lapangan secara alamiah (natural setting). Konsekuensinya peneliti harus secara
cermat dan bijaksana menerapkan teknik pengumpulan data di lapangan pada nara
sumber, agar benar-benar data diperolehnya bersifat alamiah.
“Tapi dalam suatu saat peneliti tidak terus terang atau
tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang
dicari merupakan data yang masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan
dengan terus terang, maka peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan
observasi[4][17].
c)
Observasi tak berstruktur
Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak
dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini
dikarenakan peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati.
Dalam melaksanakan penelitian tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tapi
hanya berupa rambu-rambu pengamatan[5][18].
b. Teknik pengumpulan data
dengan wawancara
Dalam wawancara kita kita dihadapkan kepada dua hal.
Pertama, kita harus mengadakan interaksi dengan responden. Kedua, kita
menghadapi kenyataan, adanya pandangan orang lain yang kita hadapi ialah
bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana kita mengolah
pandangan yang mungkin berbeda itu.
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk
bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan
makna dalam topik tertentu[6][22].
c. Teknik pengumpulan data dengan dokumen
Dokumen adalah merupakan catatan peristiwa yangtelah lalu.
Dokumen dapat berbentuk tulisan, gambar, atau karya menumental dari seseorang
lainnya. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen
yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, film, video, CD,
DVD, cassete, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,
karya lukis, patung naskah, tulisan, prasasti dan lain sebagainya.[7][28]
d. Teknik Pengumpulan data dengan Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data,
triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat
menggabungkan dari berbagai data dan sumber data yang telah ada. Triangulasi
teknik, berarti peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara
mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak.
Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang
berbeda-beda dengan teknik yang sama.
Tujuan penelitian
kualitatif memang bukan semata-mata mencari kebenaran, tetapi lebih pada
pemahaman subyek terhadap dunia sekitarnya. Dalam memahami dunia sekitarnya,
mungkin apa yang dikemukakan informan salah, karena tidak sesuai dengan tiori,
tidak sesuai dengan hukum.
7.
Macam-macam
Penyajian Data
Pengertian
Penyajian Data
Kegiatan
pengumpulan data di lapangan akan menghasilkan data angka-angka yang disebut
‘data kasar’ (raw data) yang menunjukkan bahwa data tersebut belum diolah
dengan teknik statistik tertentu. Jadi data tersebut masih berwujud sebagaimana
data itu diperoleh yang bisanya berupa skor dan relative banyak tidak
beraturan. Dalam pembuatan laporan penelitian, data termasuk yang harus
dilaporkan. Agar dapat memberikan gambaran yang bermakna, data-data itu
haruslah disajikan ke dalam tampilan yang sistematis dan untuk keperluan
penganalisisan biasanya data itu disusun dalam sebuah tabel. Penyajian data ini
bertujuan memudahkan pengolahan data dan pembaca memahami data.
Macam
– Macam Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Macam
– macam penyajian data dalam bentuk tabel antara lain:
1. Tabel
Baris Kolom
Tabel
yang lebih tepat disebut tabel baris kolom ini adalah tabel-tabel yang dibuat
selain dari tabel kontingensi dan distribusi frekuensi yaitu tabel yang terdiri
dari baris dan kolom yang mempunyai ciri tidak terdiri dari faktor-faktor yang
terdiri dari beberapa kategori dan bukan merupakan data kuantitatif yang dibuat
menjadi beberapa kelompok.
Contoh, tabel daftar ip
seorang mahasiswa pendidikan matematika
|
No
|
Semester
|
IP
|
|
1
|
I
|
3,12
|
|
2
|
II
|
3,00
|
|
3
|
III
|
3,39
|
|
4
|
IV
|
3,37
|
|
5
|
V
|
2,9
|
|
6
|
VI
|
3,3
|
|
7
|
VII
|
3,4
|
Tabel 1.
Baris kolom
2. Tabel
Kontingensi
Tabel
kontingensi merupakan bagian dari tabel baris kolom, akan tetapi tabel ini
mempunyai ciri khusus, yaitu untuk menyajikan data yang terdiri atas dua faktor
atau dua variabel, faktor yang satu terdiri atas b kategori dan lainnya terdiri
atas k kategori, dapat dibuat daftar kontingensi berukuran b x k dengan b
menyatakan baris dan k menyatakan kolom.
Contoh
Banyak Murid Sekolah Di Daerah Inderalaya Menurut Tingkat Sekolah Dan Jenis Kelamin Tahun 2006
|
JENIS KELAMIN
|
TINGKAT SEKOLAH
|
JUMLAH
|
||
|
SD
|
SMP
|
SMA
|
||
|
Laki – laki
|
4756
|
2795
|
1459
|
9012
|
|
Perempuan
|
4032
|
2116
|
1256
|
7404
|
|
Jumlah
|
8790
|
4911
|
2715
|
16416
|
Tabel 2.
Tabel kontingensi
3. Tabel
Silang
Data
hasil penelitian yang berupa perhitungan frekuensi pemunculan data juga dapat
disajikan ke dalam bentuk tabel silang. Tabel silang dapat hanya terdiri dari
satu variable tetapi dapat juga terdiri dari dua variable. Tergantung
pertanyaan atau keadaan yang ingin dideskripsikanTabel silang satu variable
digunakan untuk menggambarkan data dengan menampillkan satu karakteristiknya
saja. Misal jumlah keseluruhan. Sementara tabel silang dua variable digunakan
untuk menggambarkan data dengan menampilkan dua karakteristiknya. Misalnya
jumlah keseluruhan dan jumlah per gender.
Contoh:
Dalam suatu penelitian angket pada 34 siswa kelas
XI.A tentang mata pelajaran MIPA yang disukai, diperoleh hasil data sebagai
berikut:
|
No.
|
Mata Pelajaran
|
Jumlah
|
|
1
|
Matematika
|
11
|
|
2
|
Kimia
|
10
|
|
3
|
Fisika
|
7
|
|
4
|
Biologi
|
6
|
Tabel 2.1 Penyajian Data dalam
bentuk tabel silang satu variable
|
No.
|
Mata
Pelajaran
|
Siswa
Yang Menyukai
|
Jumlah
|
|
|
Siswa Laki -
Laki
|
Siswa
Perempuan
|
|||
|
1
|
Matematika
|
8
|
3
|
11
|
|
2
|
Kimia
|
4
|
6
|
10
|
|
3
|
Fisika
|
5
|
2
|
7
|
|
4
|
Biologi
|
2
|
4
|
6
|
Tabel 2.2 Penyajian Data dalam
bentuk tabel silang dua variable
A.
Macam – macam Penyajian Data dalam
Bentuk Grafik
Selain
dapat disajikan ke dalam bentuk tabel sebagaimana dikemukakan di atas,
data-data angka juga dapat disajikan ke dalam bentuk grafik, atau lengkapnya
grafik frekuensi. Pembuatan grafikfrekuensi pada hakikatnya merupakan
kelanjutan dari pembuatan tabel distribusi frekuensi karena pembuatan grafik
itu haruslah didasarkan pada tabel distribusi frekuensi. Grafik Histogram /
Batang
Histogram merupakan grafik dari
distribusi frekuensi suatu variable. Tampilan histogram berupa petak-petak
empat persegi panjang. Sebagai sumbu horizontal boleh memakai tepi-tepi kelas,
batas-batas kelas atau nilai variabel yang diobservasi, sedang sumbu vertical
menunjukkan frekuensi. Untuk distribusi bergolong atau berkelompok yang menjadi
absis adalah nilai tengah dari masing-masing kelas. (Drs. Ating Somantri,
2006:113)

1. Grafik
Poligon
Poligon merupakan grafik distribusi
dari distribusi frekuensi bergolong suatu variable. Tampilan polygon berupa
garis-garis patah yang diperoleh dengan cara menghubungkan puncak dari
masing-masing nilai tengah kelas. Jadi absisnya adalah nilai tengah dari
masing-masing kelas. (Drs. Ating Somantri, 2006:114):
Tabel distribusi frekuensi
hasil ujian matematika Kelas XI SMA Cendekia di Kalimantan Barat diberikan pada
Tabel 6. Buatlah histogram dan poligon frekuensinya.
Tablel 6. Tabel distribusi
frekuensi hasil ujian matematika Kelas XI SMA Cendekia di Kalimantan Barat
|
Kelas
Interval
|
Frekuensi
|
|
21–30
|
2
|
|
31–40
|
3
|
|
41–50
|
11
|
|
51–60
|
20
|
|
61–70
|
33
|
|
71–80
|
24
|
|
81–90
|
7
|
|
100
|
2. Grafik
Kurve
Kurve merupakan
perataan atau penghalusan dari garis-garis polygon. Gambar polygon sering tidak
rata karena adanya perbedaan frekuensi data skor dan data skor itu sendiri
mencerminkan fluktuasi sampel. Pembuatan kurve dilakukan dengan meratakan garis
gambar polygon yang tidak rata dan terlihat tidak beraturan sehingga menjadi
rata. (Burhan Nurgiyantoro, 2004:49)

3. Grafik
Garis
Grafik garis dibuat biasanya untuk
menunjukkan perkembangan suatu keadaan. Perkembangan tersebut bias naik bias
turun. Hal ini akan Nampak secara visual melalui garis dalam grafik. Dalam
grafik terdapat garis vertical yang menunjukkan jumlah dan yang mendatar
menunjukkan variable tertentu yang ditunjukkan pada gambar dibawah, yang perlu
diperhatikan dalam membuat grafik adalah ketepatan membuat skala pada garis
vertical yang akan mencerminkan keadaan jumlah hasil observasi. (Dr. Sugiyono,
2002:34)
Contoh : Perkembangan nilai ujian
matematika Adit semester 1 tahun ajaran 2012/2013 sebagai berikut:
|
Ujian
Semester ke
|
Nilai
|
|
1
|
80
|
|
2
|
95
|
|
3
|
60
|
|
4
|
100
|
|
5
|
85
|

B.
Diagram Lingkaran
Cara
lain untuk menyajikan data hasil penelitian adalah dengan diagram lingkaran.
Diagram lingkaran digunakan untuk membandingkan data dari berbagai kelompok.
(Dr. Sugiyono, 2002:37)
Contoh : Dari hasil penelitian mengenai
pelajaran matematika dengan sampel 50 siswa di smp negeri 24 prabumulih diperoleh data sebagai
berikut:
|
No
|
Penilaian
|
Jumlah
|
|
1
|
Sangat Suka
|
12
|
|
2
|
Suka
|
13
|
|
3
|
Tidak Suka
|
19
|
|
4
|
Sangat
Tidak Suka
|
6
|
Penyajian data tersebut
dalam diagram lingkaran adalah sebgai berikut:
1.
Cari persentase masing-masing data
tersebut.
·
Sangat Suka = 
·
Suka = 
·
Tidak Suka = 
·
Sangat Tidak Suka = 
2.
Cari Luas sudut yang dibutuhkan untuk
setiap data.
·
Sangat Suka = 
·
Suka = 
·
Tidak Suka =
·
Sangat Tidak Suka = 
3.
Selanjutnya luas-luas kelompok data
tersebut digambarkan ke dalam bentuk lingkaran.

8.
Hipotesis
Penenelitian
1.PengertianHipotesis
Hipotesis adalah usulan keterangan untuk gejala atau dugaan sementara.
Dalam metode hipotetik-deduktif, hipotesis sebaiknya falsi fabel, berarti bahwa mungkin bahwa itu bisa diperlihatkan bahwa itu adalah salah, biasanya oleh pengamatan.
Sebagai contoh, seorang pembaca yang menemukan artikel yang bermutu tinggi di Wikipedia mungkin membentuk hipotesis bahwa artikel Wikipedia hanya bisa diredaksikan oleh sangat memenuhi syarat profesor dengan Ph.Dlipatganda. Ini bisa dianggap sebagai hipotesis, karena falsi fabel; bisa disalahkan dengan menyadari bahwa siapa saja bisa meredaksikan artikel Wikipedia, menggunakan pautan "Sunting halaman ini" di atas semua hal aman. Suatu eksperimen sehubungan dengan ini adalah dengan mengklik pautan itu, meredaksikan halaman, dan menyimpannya. Jika halaman yang diganti muncul, dan anda tidak mempunyai ini Ph.Dganda, hipotesis anda disalahkan, dan eksperimen berakhir.
2. Cara Membuat Hipotesis Yang Baik
MembuatHipotesis yang Baik
Posted in
21:05
Persyaratan untuk Membuat Hipotesis yang Baik yaitu :
- Berupa pernyataan yang mengarah pada tujuan penelitian dan dirumuskan dengan jelas.
- Berupa pernyataan yang dirumuskan dengan maksud untuk dapat diuji secara empiris. Menunjukkan dengan nyata adanya hubungan antara dua variabel atau lebih.
- Berupa pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis rivalnya dan didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Menurut bentuknya, Hipotesis dibagi menjadi tiga
1. Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji.
Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
Misalnya: Ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress
2. Hipotesis operasional: Hipotesis operasional merupakan Hipotesis yang bersifat obyektif.
Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesisnol (H0).
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
Contoh: H0: Tidak ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress.
3. Hipotesis statistik: Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik.
Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0
3. Ciri-Ciri Hipotesis
Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik
Karakteristik Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal. Hal – hal tersebut diantaranya :
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
Hipotesis adalah usulan keterangan untuk gejala atau dugaan sementara.
Dalam metode hipotetik-deduktif, hipotesis sebaiknya falsi fabel, berarti bahwa mungkin bahwa itu bisa diperlihatkan bahwa itu adalah salah, biasanya oleh pengamatan.
Sebagai contoh, seorang pembaca yang menemukan artikel yang bermutu tinggi di Wikipedia mungkin membentuk hipotesis bahwa artikel Wikipedia hanya bisa diredaksikan oleh sangat memenuhi syarat profesor dengan Ph.Dlipatganda. Ini bisa dianggap sebagai hipotesis, karena falsi fabel; bisa disalahkan dengan menyadari bahwa siapa saja bisa meredaksikan artikel Wikipedia, menggunakan pautan "Sunting halaman ini" di atas semua hal aman. Suatu eksperimen sehubungan dengan ini adalah dengan mengklik pautan itu, meredaksikan halaman, dan menyimpannya. Jika halaman yang diganti muncul, dan anda tidak mempunyai ini Ph.Dganda, hipotesis anda disalahkan, dan eksperimen berakhir.
2. Cara Membuat Hipotesis Yang Baik
MembuatHipotesis yang Baik
Posted in
21:05
Persyaratan untuk Membuat Hipotesis yang Baik yaitu :
- Berupa pernyataan yang mengarah pada tujuan penelitian dan dirumuskan dengan jelas.
- Berupa pernyataan yang dirumuskan dengan maksud untuk dapat diuji secara empiris. Menunjukkan dengan nyata adanya hubungan antara dua variabel atau lebih.
- Berupa pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis rivalnya dan didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
Menurut bentuknya, Hipotesis dibagi menjadi tiga
1. Hipotesis penelitian / kerja: Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji.
Dalam Hipotesis ini peneliti mengaggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
Misalnya: Ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress
2. Hipotesis operasional: Hipotesis operasional merupakan Hipotesis yang bersifat obyektif.
Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa Hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang ada. Untuk itu peneliti memerlukan Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan netral atau secara teknis disebut Hipotesisnol (H0).
H0 digunakan untuk memberikan keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti benar atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya selama melakukan penelitian.
Contoh: H0: Tidak ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah orang stress.
3. Hipotesis statistik: Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik.
Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).
Misalnya: H0: r = 0; atau H0: p = 0
3. Ciri-Ciri Hipotesis
Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik
Karakteristik Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal. Hal – hal tersebut diantaranya :
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
MENGUJI HIPOTESIS
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis ,apakah harus menerima atau menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk mencari kebenaran.
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis ,apakah harus menerima atau menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk mencari kebenaran.


