Minggu, 10 Mei 2015

LAPORAN SEMESTER BIOKIMIA

PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Pada proses perkembangannya protein dan asam amino sangat diperlukan di dalam kehidupan, maka dengan hal tersebut manusia harus mengenal dan mengetahui penertian dari asam amino dan protein. Bukan hanya pengertiannya saja melainkan manfaatnya dalam tubuh manusia dan tubuh ternak.
            Semua asam amino mengandung gugus fungsional yang dapat bekerja sebagai asam atau basa, tergantung pada pH lingkungan, prosedur ekstrasi, dan pemurnian protein sangat beragam tergantung pada jenis proteinnya .
            Protein dan asam amino banyak dijumpai di alam yang terdiri sangat bamyak macam-macamnya. Sifat kimia dan fisik protein sangat beragam, misalnya ukuran, berat molekul, kelarutan konformasi, susunan dan deret asam amino penyusunya.
Karbohidrat merupakan senyawa yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Sebagai salah satu jenis zat gizi, fungsi utama karbohidrat adalah penghasil energi di dalam tubuh. Tiap 1 gram karbohidrat yang dikonsumsi akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal dan energi hasil proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat ini kemudian akan digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi-fungsinya seperti bernafas, kontraksi jantung dan otot serta juga untuk menjalankan berbagai aktivitas seperti berolahraga atau bekerja. Di dalam ilmu gizi secara sederhana karbohidrat dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu karbohidrat sederhana & karbohidrat kompleks dan berdasarkan responnya terhadap glukosa darah di dalam tubuh, karbohidrat tersebut dapat dibedakan berdasarkan nilai tetapan indeks glicemik-nya (glycemic index).
Pada proses keperluan yang dibutuhkan karbohidrat merupakan suatu komponen penting pada beberapa senyawa struktural, seperti pada dinding sel tanaman, bakteri dan jaringan pengikat. Dan pada umumnya karbohidrat juga didefenisikan sebagai senyawa organik yang paling berlimpah di bumi dan paling besar senyawa penyusun struktur tubuh manusia. Karbohidrat dibentuk pada tanaman tinggi dan beberapa ganggang selama fotosintesis dengan memanfaatkan cahaya matahari.
Lipida adalah senyawa organik yang tidak larut dalan air tetapi dapat diekstraksi dengan pelarut non polar seperti kloroform, benzena dan eter. Komposisi lipida berbeda dengan molekul air ataupun karbohidarat, karena mellipida mempunyai sifst fisik yang berbeda dengan kedua makro nutrien tersebut. Dalam hal ini perlu dilakukan uji untuk melihat daya larut dan asam-asam lemak dalam berbagai pelarut ynag berbeda dan uji untuk mengamati keadaan emulsi dari lamak dan zat yang berfungsi sebagai emulgator.
 Enzim ialah sejenis protein yang bertindak sebagai mangkin organik yang dapat mengawal atur serta mempercepatkan tindak balas biokimia dalam sel .Enzim terbina daripada protein yang dihasilkan oleh sel hidup. Tindakan enzim spesifik. Setiap jenis enzim hanya bertindak balas dengan substrat tertentu saja. Contoh: enzim sukrase hanya boleh berindak balas dengan sukrosa tetapi tidak boleh bertindak balas dengan maltosa walaupun kedua-duanya adalah gula. Tindak balas enzim boleh berbalik. Arah tindak balas bergantung kepada jumlah substrat dan hasil yang ada. Tindak balas penguraian lemak akan berlaku dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri sehingga keseimbangan tercapai antara kedua-dua substrat.Enzim diperlukan dalam kuantiti yang kecil. Sedikit enzim akan memangkinkan satu bilangan besar tindak balas biokimia yang sama.Enzim tidak boleh dimusnahkan selepas tindak balas biokimia selesai. Oleh itu, enzim boleh digunakan berulang kali.Suhu optimum bagi tindak balas enzim ialah pada 37oC.

Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari  praktikum  protein dan asam amino adalah untuk melihat daya larut berbagai asam amino dalam pelarut-pelarut yang berbeda, untuk mengidentifikasi asam @ amino, dan untuk mengidentifikasi asam amino yang mengandung gugus fenolik (tirosin). Pada praktikkum karbohidrat adalah untuk mengetahui terjadinya fermentasi yang dilakukan oleh sel ragi, untuk menguji adanya karbohidrat dari beberapa bahan yang diuji, dan untuk memeriksa adanya gugus keton pada gula (fruktosa) juga dapat digunakan untuk aldoheksosa (glukosa), tetapi reaksinya agak lambat.
            Pada praktikum lipida adalah untuk melihat daya kelarutan lipida dan asam-asam lemak dan berbagai pelarut dan untuk mengamati keadaan emulsi dari lemak dan zat yang bertindak sebagai emulgulator. Dan pada enzim adalah untuk mengetahui pengaruh enzim papain dalam krim santan kelapa untuk menghasilkan minyak, dan juga untuk mengetahui volume dan mutu dari minyak yang dihasilkan.
            Adapun manfaat dari praktikum protein dan asam amino adalah dapat membedakan asam amino dengan protein, pada karbohidrat manfaatnya adalah dapat mengenal dan membedakan dari masing-masing percobaan yang telah dilaksanakan dan dapat menyimpulkannya, pada lipida manfaatnya adalah dapat membedakan antara lemak dan minyak, dan pada enzim manfaatnya adalah dapat membedakan fungsi enzim pada manusia, hewan maupun tumbuhan.















TINJAUAN PUSTAKA

Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik pada tiap gugusnya, sehingga dari suatu reaksi dapat diketahui komponen asam amino suatu protein. (Ardith, 2000).
Asam amino bebas adalah asam amino dimana gugus aminonya tidak terikat. Pada percobaan uji ninhidrin asam amino akan mambentuk warna ungu karena dapat bereaksi dengan ninhidrin. Hal ini menunjukkan bahwa asam amino tersebut adalah asam amino bebas . (Trolsen, 1991).
            Semakin banyak ninhidrin pada zat uji yang dapat bereaksi semakin pekat warnanya. Hal ini juga mendasari bahwa uji ninhidrin dapat digunakan untuk menentukan asam amino secara kuantitatif. (Marston.1990).
Pada uji biuret, biasanya pada protein yang diujikan akan memberikan hasil yang  positif. Biuret bereaksi akan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus –CO dan –NH pada asam amino dalam protein. Fenol tidak dapat bereaksi dengan biuret, karena fenol tidak memiliki gugus –CO dan – NH pada molekulnya. (A, Lehninger, 1998).
            Protein yang mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan asam amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin dan akan membentuk persenyawaan baru. Uji ini bersifat umum untuk semua asam amino dan menjadi penentuan dasar penentuan kuantitatif asam amino. Pada uji ini, hanya kasein yang menunjukkan uji negatif terhadap ninhidrin, karena pada kasein tidak mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan amino yang terbuka. (Ophart, C.E, 2003).
            Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengkibatkan terjadinya interaksi non kovalen yang ada pada struktur alami protein tetapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan petida. Proses ini biasanya berlanbgsung pada kisaran suhu yang rendah .(Ophart, 2003).
            Asam amino bersifat antara asam lemah dan basa lemah ia akan terionisasi diantara asam dan basa dalam larutan berair yang disebut amfoterik, sebagai contoh adalah glisin. Senyawa-senyawa amfoterik akan bereaksi dengan asam atau basa akan membentuk garam. (Routh, 1998).
            Kondensasi dari hidroksi naftol fultural (heksosa) atau fultural (pentosa) dengan alfa , maka naftol akan membentuk suatu cincin berwarna ungu. Secara potensial karbohidrat dapat dikonversi menjadi hidroksi aldehid atau keton. (Bernard, 2000).
            Pada uji Molisch biasanya hasil yang diperoleh adalah karbohidrat yang telah dicampur dengan pereaksi molisch akan membentuk cincin berwarna ungu. Hal tersebut menunjukkan bahwa uji molisch sangat spesifik untuk membuktikan adanya golonganbmonosakarida, disakarida, dan polisakarida pada larutan karbohidrat yang diuji. (Ralph, J. Fessenden, Joan, S, Fessenden, 1997).
            Pada uji fermentasi atau yang sering disebut dengan peragian biasanya menghasilkan gas CO2 dan gas tersebut dihasilkan lebih cepat terjadi pada monosakarida, khususnya pada glukosa. Hal ini menunjukkan bahwa monosakarida lebih reaktif dari disakarida ataupun polisakarida. Selain itu, pati dan disakarida lainnya merupakan molekul yang relatif lebih besar dibandingkan dengan monosakarida, sehingga kemampuan ragi untuk mencerna, mengubah pati tersebut menjadi etil alkohol dan karbondiksida lebih banyak memerlukan energi dan waktu yang lebih lama. (Hard, Harold, 1993).
            Pada uji seliwanof merupakan pembentukan 4-hidroksimetil fultural. Ini merupakan reaksi antara fruktosa, sukrosa, laktosa dan manosa. Dan hasil yang biasa dihasilkan adalah berwarna jingga. Biasanya reaksi ini tidak terjadi pada pati dan laktosa, karena pati terdiri dari unit-unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4 a-glikosida, sedangkan laktosa tersusun dari galaktosa dan glukosa yang dihubungkan oleh ikatan lainnya, dan keduanya merupakan aldosa. (Lehninger, 1993).
            Berdasarkan struktur molekulnya,pada dasarnya asam amino adalah senyawa yang bemuatan ganda atau zwitter ion.Keadaan ini mudah berubah karena dipengaruhi oleh bkeadan sekitar atau PH lingkungan. (Balch, 2000).
            Pada pH rendah asam amomino akan bermuatan positif sedangkan pH tinggi akan akan bermuatan negatif. Pada pH 4,8-6,3 (pH isoelektris) asam amino akan berada dalam keadaan dipolar. (Key et la,1999).
Pada tabung fermentasi muncul gelembung-gelenbung CO2 dan dapat dicium bau alkohol pada larutan tersebut. Hal ini menunjukkan merupakan karbohidrat yang dapat yang dapat mengandung gugus gula yang dapat dipermentasi. (Anna, 1994).
            Hanya patilah yang menunjukkan reaksi positif bila direaksikan dengan iodium. Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati terdapat unit-unit glukosa pada komplyang membentuk rantai heliks karena ada ikatan kofigurasi pada setiap unit glukosa.Bentuk ini dapat menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dap[at masuk kedalam spiralnya,sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. (Keynes, 2000).
            Minyak mempunyai  sifat tidal larut dalam pelarut polar dan larut dalam pelarut non polar seperti alkohol panas, eter, klloroform, benzena. Pada hasil percobaan , minyak kelapa yang teteskan pada kloroform dan eter akan larut dan tidak larut dalan air. (Amstrong, 1995).
            Pada uji kelarutan lipid, hampir semua jenis lipid yaitu lemak dan minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti air, namun larut seperti pelarut non polar seperti kloroform,eter dan benzena. (Riawan, 1990).
Lipid adalah sekumpulan senyawa di dalam tubuh yang memiliki ciri-ciri dengan malam, gemuk atau minyak. Karena bersifat hidrohidrofobik golongan senyawa ini dapat dipakai tubuh sebagai sarana yang bermanfaat untuk berbagai keperluan. Misalnya jenis lipid yang dikenal sebagai trigliserida berfungsi sebagai bahan bakar yang penting. Senyawa ini sangat efesien untuk dipakai sebagai simpanan bahan penghasil energi karena terkumpul dalam butir-butir kecil yang hampir bebas air, membuatnya jauh lebih ringan daripada timbunana karbohidrat setara yang sarat air. (A, Girindra, 1996).
            Jenis lipid yang lain merupakan bahan struktural yang penting, kemampuan jenis lipid ini untuk saling bergabung menyingkirkan air dan senyawa polar lain menyebabkannya dapat membentuk membran, sehingga memungkinkan adanya berbagai organisme yang kompleks. Membran tersebut memisahkan satu sel dengan sel yang lain di dalam jaringan, serta memisahkan berbagai organel di dalam ruangan menjadi ruangan-ruangan yang memiliki ciri-ciri tertentu, sehingga dapat diatur atau ditata sendiri. (Gilvery dan Goldstein, 1996).
Asam oleat dan gliserol larut dalam air maupun alkohol.Hal ini disebabakan karena pada gliserol dan asam oleat mempunyai kepala polar berupa gugus –OH yang dapat berikatan hidrogen dengan molekul air dan alkohol.(Harper,2000)
            Pada uji kelarutan lipid dengan pelarut alkohol lipid berupa minyak kelapa, mentega dan margarin tidak larut dalam alkohol panas dan dingin, sedangkan asam oleat dan gliserol larut didalamnya dan stearat hanya larut dalam alkohol panas, sedangkan pada alkohol dingin tidak larut. (Keynes, 2000).
            Sabun digunakan sebagai pembersih kotoran terutama kotoran yang bersifat seperti lemak atau minyak karena sabun dapat mengemulsikan atau minyak. Jadi sabun dapat berfungsi sebagai emulgator. (Riawan, 1990).
Enzim dipengruhi oleh beberapa faktor terutama adalah substrat, suhu, keasaman , kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH optimum yang berbeda-beda karena enzim adalah protein yang dapat mengalami perubahan jika suhu dan keasaman berubah. (Arora, 2000).
            Reaksi yang dikatalisasi oleh enzim molekul awal reaksi tersebut disebut sebagai substrat,dan enzin dapat mengubah molekul tersebut menjadi molekul-molekul yang berbeda disebut  produk. Hampir semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat. (Andrew, 1990).
Jika krim santan kelapa dicampur dengan getah buah pepaya, maka rasa, bau, dan warnanya sangat jarang disukai oleh orang, karena baunya tidak enak untuk dicium, rasanya pahit, dan memiliki warna yang keruh. Hal ini disebabkan karena enzim dari buah pepaya lebih banyak berperan daripad krim santan kelapa. (Guyton, 2005).
            Krim santan kelapa mengandung pati yang sangat disukai oleh banyak orang . Sebab krim santan kelapa memiliki rasa, bau, dan warna yang carah dan enak dilihat oleh mata, serta memiliki aroma yang khas. (Michael, Purba, 1998).
            Beberapa enzim dapat bekerja sama dalam ururtan tertentu dan menghasilkan lintasan metabolisme. Dalam lintasan metabolisme, satu enzim akan membawa produk lainnya sebagai substrat yang berbeda-beda.
 Diajukan bahwa kespesifikan substrat yang sangat luas ini sangat pentimg terhadap evolusi  lintasan bisintstik yang baru. (A. Lehninger, 1995).
Enzim adalah suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator reaksi-reaksi biokimia pada mahluk biologi. Zat-zat yang diuraikan oleh reaksi disebut substrat. (Trolsen , 1990).
            Aktivitas enzim disebut juga sebagai kinetika enzim. Kinetika enzim adalah kemampuan enzin dalam membantu reaksi kimia. Kemampuan enzim dapat dihitung dengan mengukur jumlah produk yang terbentuk, atau dengan menghitung substrat dalam satu satuan waktu .(Marston, 1998).
            Enzim adalah biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang dapat mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia .Hampir semua enzim merupakan protein .(Basya, 2000).
















MATERI DAN METODA

Waktu dan Tempat
            Praktikum biokimia dasar ini dilaksanakan setiap hari Selasa, yang dimulai dari pukul 14.00 wib sampai dengan selesai dan diadakan di Laboratorium MIPA Universitas Jambi.

Materi
            Pada praktikum protein dan asam amino alat dan bahan yang digunakan adalah :
Pada kelarutan asam amino, HCl 0,5 ml, NaOH 0,5 ml, etanol, kloroform, asam-asam amino (glisin, lisin, glutamat, alanin) masing-masing 30 gram, tabung reaksi, beker glass, dan batang pengaduk. Pada uji Ninhidrin, asam-asam amino (glisin, tirosin, histidin, arginin, dan tritofan) masing-masing sebanyak 5 tetes, Ninhidrin 0,5 ml dipersiapkan sebelum digunakan, tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, erlenmeyer, penangas air dan penjepit tabung reaksi. Pada uji Millon, asam-asam amino (glisin, tirosin, histidin, arginin dan tritofan) masing-masing sebanyak 5 tetes, fenol, NaNO3, pereaksi Millon, tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, erlenmeyer, penjepit tabung reaksi, dan penangas air.
            Pada praktikum karbohidrat alat dan bahan yang digunakan adalah :
Pada peragian, larutan monosakarida, ragi, NaOH, akuades, tabung reaksi,bdan tabung fermentasi. Pada uji Iod, selulosa, akuades, dan tabung reaksi. Pada uji Seliwanof, pereaksi Seliwanof 0,5 ml, fruktosa, glukosa, tabung reaksi, pipet tetes dan penangas air.
            Pada praktikum Lipida alat dan bahan yang digunakan adalah :
Pada uji daya kelarutan lipida, asam-asam lemak ( stearat dan asam oleat), lemak dan minyak ( lard, butter, margarin, olive), fosfolipida, kolesterol, pelarut, tabung reaksi, kertas saring, pipet tetes, dan erlenmeyer. Pada emulsi dari lemak, minyak parafin, minyak kelapa, HCl encer, kolesterol, soda, tabung reaksi dan raknya, kertas saring dan pipet tetes.
            Pada praktikum enzim alat dan bahan yang digunakan adalah krim santan kelapa, getah buah pepaya, akuades, alkohol 70% dan 90%, NaOH dan KOH, dan kantong plastik.

Metoda
            Adapun cara yang dilakukan pada praktikum protein dan asam amino adalah :
Pada kelarutan asam amino, siapkan 5 buah tabung reaksi yang diisi dengan pelarut HCl, NaOH, asam glutamat dan air masing-masing 3 ml. Larutkan kira-kira 0,5 ml asam amino ke dalam masing-masing pelarut tersebut, gunakan pengaduk bila perlu, catat bagaimana hasilnya dan buat kesimpulannya. Pada uji Ninhidrin, masukkan 2 ml asam amino yang akan di identifikasi ke dalam tabung reaksi dengan pH netral, kemudian tambahkan pereaksi Ninhidrin, didihkan selama 2 menit dalam penangas air, lalu amati warna hasil reaksi, dan simpulkan hasil pengamatan yang diperoleh. Pada uji Millon, siapkan larutan asam amino yang akan diidentifikasi ke dalam tabung reaksi masing-masing 1 ml, tambahkan 5 tetes pereaksi Millon dan didihkan selama 10 menit, dan tambahkan 5 tetes NaNO3, kemudian amati warna hasil reaksi dan simpulkan hasil pengamatan anda.
            Cara yang dilakukan pada praktikum kaarbohidrat adalah :
Pada peragian, masukkan larutan monosakarida ke dalam sebuah tabung reaksi, kemudian tambahkan sedikit ragi, kocoklah sampai terjadi suspensi, kemudian suspensi tersebut dimasukkan ke dalam tabung fermentasi, biarkan sejenak pada psuhu 30°C sehingga membentuk CO2, tambahkan NaOH ke dalam suspensi tersebut sehingga terbentuk reaksi CO2 + 2 NaOH —> Na2CO3 + H2O. Lakukan cara kerja di atas tanpa menggunakan ragi, sebagai blangko.
            Pada uji Iod, masukkan larutan yang diuji ke dalam tabung reaksi, tambahkan HCl encer, kemudian tambahkan lagi 2 tetes Iod. Sebagai bangko lakukan prosedur 1 dan 2 tanpa menggunakan larutan yang diuji, kemudian bandingkan warna yang terjadi antara yang menggunakan larutan uji dengan blangko.
            Pada uji Seliwanof. Siapkan 2 buah tabung reaksi yang masing-masing diisi 2 ml pereaksi Seliwanof, kemudian pada tabung pereaksi 1 ditambahkan 2 tetes fruktosa, dan pada tabung ke 2 ditambahkan 2 tetes glukosa. Selanjutnya panaskan kedua tabung tersebut sampai mendidih selama 1 menit, catat terbentuknya warna merah gelap.
            Cara yang dilakukan pada praktikum lipida adalah
Pada daya kelarutan lipida, periksalah larutan lipida dan asam-asam lemak dalam air dan pelarut-pelarut diatas, catat perbedaan diantara gugus-gugus utama lipida, teteskan 1 tetes larutan lipida di atas kertas saring dan biarkan kering, kemudian amati pembentukan suatu noda lemak yang jernih. Masukkan 1 ml air tambahkan lipida yang telah dilarutkan dalam etanol ke dalam tabung reaksi, catat penampakan. Masukkan air 3 ml ke dalam 2 tabung reaksi, tambahkan 2 tetes minyak zaitun ke dalam 2 buah tabung reaksi, tambahkan lagi larutan lesitin ke dalam salah satu tabung reaksi dan minyak zaitun ke dalam tabung reaksi yang lain. Kocok campuran dengan baik dan bandingkan stabilitas emulsi yang terbentuk.
            Pada emulsi, gunakan 4 tabung yang masing-masing isi ± 5 ml air, kemudian tabung 1 tambahkan dengan 1 tetes minyak parafin dan 1 tetes HCl encer, tabung ke 2 tambahkan 1 tetes minyak kelapa dan 1 tetes HCl encer, tabung ketiga tambahkan dengan 1 tetes minyak parafin dengan 1 tetes soda, dan tabung ke 4 tambahkan dengan 1 tetes minyak kelapa dan 1 tetes soda. Setelah dicampur kemudian amatilah emulsi yang terjadi dan jelaskan masing-masing keadaan tabung reaksi.
            Cara yang digunakan pada enzim adalah ke dalam 100 ml krim santan kelapa tambahkan 3ml getah buah pepaya, dan yang lain hanya krim santan kelapa saja. Kemudian amatilah warna, rasa, dan bau pada kedua percobaan tersebut, kemudian hitung berapa orang yang menyukai dan yang tidak menyukai rasa, bau maupun warna kedua percobaan tersebut.



HASIL DAN PEMBAHASAN

            Adapun hasil yang didapatkan setelah melakukan praktikum tentang protein dan asam amino adalah dengan mencampurkan HCl dengan asam amino ternyata hasilnya tidak mengalami perubahan atau dapay juga dikatakan tidak melarut, dan hasil – hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
            Pencampuran NaOH dengan dengan lisin hasilnya adalah tidak ada perubahan, etanol dicampur dengan glutamat hasilnya juga tidak mengalami perubahan, dan pada air yang dicampur dengan alanin hasilnya juga tidak mengalami perubahan.
            Pada uji Ninhidrin, tirosin yang sudah dipanaskan berubah menjadi warna biru, glisin yang telah dipanaskan berubah menjadi warna biru tua, arginin yang telah dipanaskan berubah menjadi warna ungu, dan apabila tritofan yang telah dididihkan berubah menjadi warna ungu.
            Pada uji Milon, arginin yang sudah dipanaskan tidak mengalami perubahan warna, glisin yang telah dipanaskan tidak mengalami perubahan warna, histidin yang telah dipanaskan berubah menjadi warna putih susu, tritofan yang telah dipanaskan berubah menjadi warna kuning, dan tirosin yang telah dipanaskan berubah menjadi merah.
            Pada uji Ninhidrin asam amino yang telah ditambahkan reaksi Ninhidrin dan setelah dipanaskan, ternyata semua asam amino tersebut tidak menghasilkann warna yang berbeda. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat  Trolsen (1991),  yang menyatakan bahwa pada percobaan uji ninhidrin asam amino akan membentuk warna ungu karena dapat bereaksi dengan ninhidrin. Menurut Basya (1997) yang menyatakan bahwa penentuan percobaan ninhidrin diperoleh hasil akhir adalah positif dan perubahan warna yang terjadi adalah warna  biru ungu. Menurut Conway (1992), menyatakan bahwa uji ninhidrin dilakukan dengan menambahakan beberapa tetes larutan ninhidrin yang tidak berwarna pada kedalam sampel,lalu dipanaskan beberapa menit akan membentuk senyawa bewarna biru.Semakin banyak pelarut ninhidrin pada zat uji yang bereaksi maka akan semakin pekat warnanya (Basya,1999).
Kesalahan hasil pada uji Ninhidrin mungkin disebabakan karena kesalahan dalam melaksanakan praktikum. Misalnya larutan Ninhidrinnya terlalu banyak atau mungkin juga karen awaktu pemanasan terlalu lama ataupun terlalu cepat.
            Sedangkan pada uji Millon hasilnya adalah asam amino mengalami perubahan warna.  Asam amino yang mengalami perubahan warna berarti asam amino tersebut bereaksi dengan senyawa yang mengandung radikal hidroksi benzena dan akan memberikan reaksi positif. Sedangkan asam amino yang tidak mengalami perubahan warna adalah kebalikan dari yang mengalami perubahan warna. Hal tersebut sesuai dengan pendapat A. Girindra, dimana beliau memiliki prinsip bahwa tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugs R nya yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi Millon. Itulah sebabnya tirosin tidak mengalami perubahan warna, sebab tirosin mengandung molekul fenol, yang menyebabkan tirosin tidak dapat mengalami perubahan warna.
            Pada peragian hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut, Fruktosa dicampurkan dengan ragi, setelah dicampurkan maka terjadi perubahan warna menjadi warna susu dan ada terdapat gelembung-gelembung gas. Glukosa dicampur dengan ragi dan NaOH terdapat gelembung gas, tetapi gelembung gasnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan gelembung gas yang terdapat pada fruktosa. Maltosa yang dicampur dengan ragi dan NaOH hasilnya adalah terdapat gelembung gas yang halus dan tidak terlalu banyak. Dan pada selulosa yang dicampur dengan ragi dan NaOH hasilnhya adalah terdapat gelembumg gas, tetapi tidak terlalu kelihatan.
            Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Hard, Harold, 1993), dimana beliau menyatakan bahwa pada uji fermentasi atau yang sering disebut dengan peragian biasanya menghasilkan gas CO2 dan gas tersebut dihasilkan lebih cepat terjadi pada monosakarida, khususnya pada glukosa. Hal ini menunjukkan bahwa monosakarida lebih reaktif dari disakarida ataupun polisakarida. Selain itu, pati dan disakarida lainnya merupakan molekul yang relatif lebih besar dibandingkan dengan monosakarida, sehingga kemampuan ragi untuk mencerna, mengubah pati tersebut menjadi etil alkohol dan karbondiksida lebih banyak memerlukan energi dan waktu yang lebih lama.
            Pada uji iod hasil yang diperoleh adalah selulosa yang dicampur dengan HCl 0,1 M dan yang ditetesi dengan iod, maka hasil yang diperoleh adalah selulosa berubah menjadi warna putih, sedangkan pada aquades yang dicampur dengan HCl 0,1 M dan kemudian yang ditetesi dengan iod sebanyak 2 tetes, maka hasil yang diperoleh adalah aquades berubah menjadi warna putih kekuning-kuningan.
            Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pendapat Muchtadi berhubungan erat dengan hasil percobaan yang telah dilakukan, dimana hasil percobaan juga menghasilkan warna biru. Tetapi, jika dibandingkan dengan pendapat Sudarmadji, maka hal ini bertentangan atau tidak sesuai, sebab Sudarmadji menyatakan bahwa karbohidrat yang terhidrolisis dengan asam akan menghasilkan warna biru, sementara selulosa dan akuades tidak dilarutkan dalam asam.
            Pada uji Seliwanof, setelah larutan fruktosa ditambahkan dengan pereaksi Seliwanof, yang telah dipanaskan dan setelah beberapa menit ketika dipanaskan tidak ada terjadi perubahan warna. Sedangkan larutan glukosa ditambahka dengan pereaksi Seliwanof dan setelah dipanaskan tidak ada terjadi perubahan.
Dari hasil praktikum ini  sangat bertentangan dengan pendapat  Harper et al (1991) yang menyatakan bahwa fruktosa dapat bereaksi dengan reagen seliwanoff dan memberikan warna kompleks merah cerah.Hal ini menunjukkan bahwa fruktosa mengandung keton sedangkan glukosa tidak mengandung gugus keton sehingga tidak bereaksi dengan reagen seliwanoff.Tetapi dalam hal percobaan ini antara fruktosa dan glukosa dinyatakan tidak mengandung gugus keton da sama-sama menghasilkan warna coklat.Ini menunjukkan bahwa adanya kesalahan dalam praktikum yang dilakukan.
            Tetapi menurut Price (2000) yang menyatakan pada reaksi fruktosa,sukrosa.dan laktosa yang mendasari uji seliwanoff bahwa fruktosa merupakan ketosa dan sukrosa atas glukosa dan fruktosa sehingga bereaksi dengan pereksi seliwanoff menghasilkan senyawa bewarna jingga.Hal ini sangat berlawanan dengan hasil praktikum yang dilakukan oleh praktikan.
            Hasil yang diperoleh dari praktikum lipida adalah sebagai berikut
            Pada daya kelarutan lipida, setelah stearat diteteskan ke atas tissue, ternyata ada noda-noda kecil yang berwarna putih, sedangkan jika asam oleat diteteskan diatas tissue, ternyata hasil yang didapatkan adalah tidak ada terdapat noda di atas tissue. Dan hasil pencampuran anatara aquades dengan stearat dan etanol adalah tidak larut, sedangkan pada pencampuran aquades dengan asam lemak hasilnya adalah tidak larut. Dan pada pencampuran aquades dengan minyak zaitun adalah melarut, sedangkan pada pencampuran aquades dengan minyak zaitun ditambah dengan lesitin (putih telur) hasilnya adalah melarut.
Menurut Anderson (1993) menyatakan bahwa asam oleat larut didalam air sedangkan stearat tidak larut dalam air , hal ini sangat berbeda dengan hasil yang di dapat dari praktikum yaitu bahwa asam oleat tidak larut dalam air sedangkan stearat larut dalam air sedangkan stearat larut dalam air yang sangat berbanding terbalik dengan pendapat dari Keynes.Hal ini membuktikan bahwa stearat merupakan salah satu jenis lemak dan asam oleat bukan merupakan lipida, hal ini didukung oleh teori A. Girindra.
Kemudian pada emulsi dari lemak, pada pencampuran 1 tetes minyak parafin ditambah dengan 1 tetes HCl encer + 1 tetes minyak kelapa + 1 tetes HCl encer + 1 tetes minyak parafin + 1 tetes + soda dan 1 tetes minyak kelapa dan 1 tetes soda, hasilnya adalah tidak melarut dan tidak ada terjadi emulsi.
Hal in sesuai dengan pendapat dari Riawan (1990) yang menyatakan tentang emulsi itu dapat dihindari dengan penggunaan sabun, dimana sabun dapat digunakan sebagai pembersih kotoran, terutama kotoran yang bersifat seperti lemak atau minyak, karena sabun dapat mengemulsikan sabun atau minyak, sehingga sabun dapat berfungsi sebagai emulgator.
Tabel getah buah pepaya
Nama
Warna
Rasa
Bau
Dayat
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
Fenda
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
Endy
Tidak suka
Tidaksuka
Tidak suka
Dedy
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka

Dari hasil praktikum yang dilakukan oleh para praktikan mengenai getah buah pepaya dan semua praktikan tidak menyukai warna, bau, dan rasa getah buah pepaya tersebut. Rasa getah buah pepaya yang kelat dan pahit yang luar biasa, dari segi warna dan bau juga tidak enak.
Hasil yang diperoleh dari praktikum enzim adalah sebagai berikut
Tabel krim santan kelapa yang dicampur dengan getah buah pepaya
Nama
Warna
Rasa
Bau
Dayat
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
Fenda
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
Endy
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
Dedy
Tidak suka
Tidak suka
Tidak suka
                                                                                                           
Dari tabel, dapat disimpulkan bahwa yang menyukai krim santan kelapa yang dicampur dengan getah pepaya, ternyata tidak ada mahasiswa yang menyukai warna, rasa, maupun bau. Hal tersebut disebabkan karena campuran bahan tersebut mengandung bau yang tidak enak dicium oleh hidung, rasa yang pahit dan warna yang keruh.
Tabel krim santan kelapa

Nama
Warna
Rasa
Bau
Dayat
Suka
Suka
Suka
Fenda
Suka
Suka
Suka
Endy
Suka
Suka
Suka
Dedy
Suka
Suka
Suka

Dari tabel diperoleh hasil, bahwa semua mahasiswa menyukai warna, bau, dan rasa santan kelapa. Hal tersebut disebabkan karena krim santan kelapa mengandung rasa yang manis, bau kelapa dan warna putih kental, sehingga orang menyukainya.
 Menurut Trolsen (1990) menyatakan bahwa enzim adalah suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalisator reaksi-reaksi biokimia pada makhluk biologis zat-zat yang dihasilkan oleh reaksi adalah substrat. Maka dapat dikatakan bahwa hasil reaksi yang di dapat dari santan kelapa dan enzim papain itu adalah substrat.
            Menurut Andrew (1990) menyatakan bahwa penambahan enzim pada suatu produk akan mempercepat suatu reaksi dan sebagai hasil substratnya akan memiliki sifat-sifat yang berbeda dari produk dimana pada substrat akan ditemukan beberapa perubahan dari produk.
            Hal ini sesuai dengan hasil pada praktikum tersebut, dimana pada penambahan enzim papain dalam krim santan kelapa akan mengahasilkan bau dan rasa yang berbeda dari produk awal. Dan hal in juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti pendapat dari Arora (2001) menyatakan bahwa kerja enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama adalah substrat, suhu, keasaman, kofaktor dan inhibitor. Tiap enzim memerlukan suhu dan pH atau tingkat keasaman optimum yang berbeda-beda, karena enzim adalah protein yang dapat mengalami perubahan bentuk jika suhu dan keasaman berubah.

















KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum Biokimia Dasar ini adalah bahwa senyawa asam amino larut di dalam pelarut, karena semua pelarut  merupakan pelarut polar. Dan pada hasil pereaksi Ninhindrin ditentukan oleh senyawa asam-asam amino yang dicampur dengan Ninhidrin. Beberapa karbohidrat memiliki gugus fungsi yang berbeda-beda sehingga uji-uji tersebut sangat berguna pada identifikasi yang berbeda-beda pada setiap uji yang dilakukan pada karbohidrat dengan hasil yang berbeda-beda juga.Pada kelarutan lipida bahwa semua bentuk lipid baik dalam lemak atau minyak tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut non polar, dan pada uji emulsi dari lemak yaitu bahwa emulsi dapat dihindari dengan pemberian emulgator. Dengan penambahan enzim pada suatu produk akan menghasilkan substrat yang berbeda dengan substratnya.Pada penambahan enzim papain terhadap krim santan kelapa menghasulkan substratnya yang memiliki warna,bau,dan rasa yang berbeda dengan produk awal, dimana enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti substrat, suhu, keasaman, kofaktar dan inhibitor.

Saran
            Adapun saran saya adalah seharusnya mahasiswa dapat membedakan unsur-unsur pembentuk karbohidrat dan juga alat- alat praktikum di laboratorium seharusnya harus lebih lengkap lagi.






DAFTAR PUSTAKA

Ardith. 2002. Penuntun Praktikum Biokimia Edisi 10. EGC : Jakarta.
Arkie. S. 2000. Hamparan Dunia Ilmu. Gramedia : Jakarta.
Azilla. M. S. 2002. Protein dan Asam Amino. G ramedia : Jakarta.
Bernath, F. 2002. Biokimia Dasar . Erlangga : Jakarta.
Chen Chiu. 2000. Dasar- Dasar Kimia. Gramedia : Jakarta.
David, Raah. 2005. Kimia Dasar. Erlangga : Jakarta.
Dorlice. A. 1999. Hamparan Ilmu Dunia. Science in Foas : Jatinangor.
Feliat. S. 2006. Manfaat Protein Edisi 12. Pearson and Educations : Asia.
Melisha. 2004. Kimia Nutrisi. Erlangga : Jakarta.
Mercuri. 2005. Biologi dan Kimia. Gramedia : Jakarta.
Navill. F. 2002. Kimia Lipid. Erlangga : Jakarta.
Samuel. M. 2007. Protein dan Karbohidrat. Yudisthira : Jakarta.
Solfirman. 2005. Imu- Ilmu Enzim. UGM Press : Yogyakarta.        
Sudarmadji. 1996. Analisis Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty : Jakarta.
Summer, B, James. 1996. Dasar- Dasar Biokia. Universitas Indonesia Press :
Jakarta.
Wilbraham, dkk. 1992. Anallisis Biokimia. Gramedia : Jakarta.
Winarno. 2005. Ilmu Kimia. Erlangga : Jakarta.